Skip to content

Dimensi Pertemuan part 3

Oktober 10, 2012

Created By : Dante Azzca

Aku terlalu berharap dalam ketidakmampuanku. Bersandar pada kerapuhan pelukmu yang bukan untukku. Kau berikan rasa yang salah aku artikan. Tapi mengapa semua harap dan perjuanganku hancur menjadi debu. Lalu, berderu ke dalam hati, memicu desir kebencian di hati yang dulu ada semi cinta untukmu. Kini, hatiku telah meradangkan kekeringan padang kebencian. Namun. Sungguh tak akan ku sempatkan hati ini untuk membencimu. Karena, tak ada tempat di hatiku selain tempat mencintamu.

13.00. Bel berdering, petanda proses belajar mengajar telah usai. Semua kenyataan yang terjadi dimasa ini membuatku terdiam dalam kehampaan. Aku sempatkan diri ini meneguk dinginnya minuman di kantin sekolah berharap ia dapat mencairkan beku hatiku.

“Hai” sapa terdengar melayang di telingaku. Ku tengokkan sejenak fokusku pada sakit yang takkan berakhir ini.

Rhino ternyata…

“ Lagi galau ya, mas” ledeknya sambil duduk dan tertawa.

“ Gimana dengan Putri, Kamu sudah tahu kan?” tanyanya.

Ku hanya terdiam, Rhino serasa menggambarkan kembali dengan jelas kenyataan yang ku benci itu.

“ Kali ini kau salah, ada beberapa hal tentang Putri yang luput dari pandanganmu” terusnya.

Ku heran dengan kata-katanya. Tak ada yang ku mengerti dari kata-katanya. Ku hanya diam sambil mencari-cari apa yang dimaksudnya.

“ Tak pernahkah kau berpikir mengapa Putri membicarakan banyak hal di makan malam itu? Apa kau tak tahu mengapa Putri mengajakmu menonton film? Apa kau tak tahu sahabatku, mengapa Putri begitu mudah didekatkan padamu? Apa kau tak merasa betapa mudah senyumnya terbagi untukmu? Apa hatimu jjuga tak merasa bahwa ada beberapa cinta dalam tatap matanya untukmu? Namun, hatimu tak pernah merasakan itu. Matamu tak pernah menangkap cinta Putri” tutur Rhino tiba-tiba.

“ Candamu hanya menambah sakitku, aku sedang tidak mood untuk becanda” ucapku ketus.

“ Kau tahu, aku tahu semua itu dari Putri” tutur Rhino.

Mendengar semua ucapanya, membuatku tertegun dalam kehampaan. Seakan aku merasa nafasku tenggelam dalam kedukaan. Ada sesal bercampur bahagia yang menikam hati secara bersamaan. Lumpuh tubuhku, bagai tertiup angin yang bersanding gelap, menghembuskan rasa sakit yang mengkristal dalam hati. Aku tak mampu mengelak lagi, sakit ini melebihi ketegaran hati.

“Mengapa kau tak pernah mengatakan padaku Rhino. Mengapa tak kau katakan saja tentang rasaku padanya” ucapku yang mulai larut dalam tangis. Dan mengapa isyarat cinta Putri begitu lemah hingga aku tak dapat merasakannya. Aku tak pernah memandang mimpi itu dengan mata yang penuh harap, karena aku terlalu takut jatuh saat memandang mimpi itu.

“Apakah aku harus melompat di antara kalian lalu mengatakan bahwa kau cinta Putri. Dimana hatimu Dante?” ucapnya.

“Tapi memang isyarat cinta itu tak dapat ku rasakan. Aku takut tak ada rasa yang sama seperti rasaku dalam hatinya untukku” sambungku yang mulai tersandung-sandung dalam tangis.

“Seharusnya kau tahu seberkas cinta itu pernah bersinar dalam hati Putri. Ada beberapa hal yang harus diutarakan dan ada beberapa hal juga yang memang hanya dapat dirasakan. Sekarang, menyesalpun sia-sia” ucapnya.

“Tapi mengapa dia menerima cinta yang lain sebelum aku sempat mengutarakan cintaku?”

ucapku dalam tangis yang serasa ingin terjatuh.

“Terlalu lama dia menunggu harapan itu untuk singgah di hatinya. Dia menganggap seperti yang kau anggap dulu, tak ada rasa yang sama seperti rasanya padamu” tuturnya lirih.

“Diva hanya sebagai alasan agar kau keluar dari duniamu yang tolol itu. Kau jadi pendiam semenjak kau putus dengan Sifa. Aku hanya ingin membantu sahabatku yang dulu telah banyak membantuku. Kau tahu, hutang budi hanya akan sejajar dengan balas budi. Mungkin karena namanya hampir sama, kau berani dekati Diva” sambungnya lagi.

“Tapi, kini. Mungkin aku menyakiti Diva yang tak tau apapun” ucapku.

“Bukankah aku tak pernah menuntut Diva darimu. Hanya saja, kau harus berani padamkan api dusta itu walau akan membakar tubuhmu” ucapnya.

“Maaf, jika hidupmu lebih kacau kini. Aku hanya ingin kau mejauh dari duniamu yang tolol itu” ucapnya.

“Jangan menyesal” imbuhnya sambil menepuk bahuku lalu beranjak pergi.

Diakhir ini, aku temukan kenyataan yang tenggelam , yang aku sendiri tak tahu ia sangat berharga bagiku. Mengapa sakit ini harus datang secara bergantian, bersamaan dalam hati yang mulai merapuh.

14:14, Aku jatuhkan tasku. Aku rebahkan tubuhku pada tempat tidur. Seharian sepulang sekolah aku hanya tidur. Mencoba melupakan semua dalam tidur atau memimpikan hal-hal yang tak dapat ku capai, walau hanya akan menambah rasa sakit ini. Penat mulai mengisi kekosongan jiwa, ada detik-detik yang terasa berat. Membebani semua perjalanan waktuku tanpa mimpi yang dapat membuatku pulas dalam angan-angan. Aku kehilangan daya untuk hidup. Aku seolah menepi pada kematian. Beberapa nafas terasa berat untuk terhempas. Dalam bangun dari jatuhku. Aku mencoba tetap tunduk pada luka tanpa wujud. Aku mencoba bersandar pada derita yang berliku. Kini semua hidupku, nafasku, detakku, dan penglihatanku memudar dalam gelap kecewaku.

17:15, saat aku terbangun. Ada sebuah nada yang mengisi ruangan gelap ini. Memecahkan serumpunan tirai kesunyian.

“Ketemuan yuk?” tulisnya. Diva? Seharusnya aku tau, ia selalu hadir dalam kepalsuanku ini.

“ Kapan?” alasku.

Kini akan aku akhiri semua sekaligus. Walau harus hati menampung rasa sakit dan kebenciannya secara bersamaan. Tak ada jalan lain. Walau harus terperosok ke dasar sakit yang tak pernah berhenti mengikis hati. Aku bukan manusia yang tak akan mati, tapi aku yakini dalam nurani, hatiku tak akan pernah mati, walau harus menyimpan beban sakit ini.

“ Eh, tumben kamu mau. Asik… Ntar malam” balasnya.

“ Malam ini?” balasku lagi.

“ Iya, jangan bilang nggak bisa lagi” balasnya.

“ Hmmp, Ayo” balasku.

“ Kita ketemuan di Matchlove Cafe aja, jam 7” balasnya.

“ Ok!” jawabku singkat

Ku hadirkan diriku pada alur yang tak ingin ku lalui, lagi.

19.15, setibanya di MatchLove Cafe. Aku mencari-cari hadirnya. Aku tujukan penglihatanku ke semua arah. Ada beberapa gadis, tapi ku tak tahu yang mana. Aku hanya tahu fotonya tapi tak pernah tahu paras sebenarnya. Membingungkan, tapi ada keyakinan, ia lebih dari sekadar yang ku tahu. Tiba-tiba, ada seorang gadis yang mendekatiku. Tak begitu jelas, lampu bercahaya dalam remang-remang.

“Rhino?” tuturnya.

Sedetik pikiranku melumpuh, mencoba menyusun kembali potongan-potongan puzzle akalku.

“Ya. Diva?” sahutku.

“ Ayo, ke sini!” sambungnya. Sambil mengajakku pada tempat yang masih kosong penghuni. Ku duduk, iapun duduk.

“ Selalu, cowok selalu datang telat” ucapnya sambil melayangkan tawa-tawa kecil dan tersenyum.

Aku hanya diam. Sambil mencoba tersenyum. Ada sebuah kiasan cahaya yang mengiringi sikapnya. Inikah pesona, namun sejuta pesona telah berkedudukan dalam mata ini, namun tak pernah hatiku menjadi selemah ini. Sekilau kelembutan terpancar dari senyumnya . Ia membuatku berdiri setelah jatuh walau akan terjatuh lagi. Tatap matanya begitu memukau bagai genangan cahaya apabila telah bersinar. Rambutnya terurai bagai hamparan langit apabila telah malam. Senyumnya memaniskan bagai madu apabila telah ranum.

“ Bercanda, jangan kaku gitu dong. Kau lebih keren dari yang ku tau” sambungnya.

Tetap bungkam bibirku.

Katanya menenangkan gelisah hatiku. Mungkin Diva mencoba melambungkan obrolan agar aku tak terlihat kaku dalam pertemuan ini.

“ Kenapa diam? Waktu SMS, kata-katamu selalu ada. Sekarang mana? Kok mendingin atau memang itu sikapmu?” sambungnya lagi.

“Aku bingung harus berkata apa” jawabku pelan-pelan. Semua debar ada dalam dada. Ia memang lebih dari yang ku tau. Semua serasa berbeda. Tawanya, sapanya, candanya, dan senyumnya melemahkan semua panca indraku. Parasnya melebihi pesona paras Putri. Itu yang ku rasakan. Atau ini hanya karena lampu-lampu yang berpudarkan cahaya.

“Udah, kalau kamu bingung, diam aja. Aku takut jantungmu berhenti berdetak” tuturnya sambil tertawa kecil. Aku hanya tersenyum membalas senyumnya.

“Aku ingin mendengar jawab atas apa yang telah aku utarakan padamu dulu” sambungnya.

Aku tak menyangka dia akan menanyakan kepalsuan itu. Dalam suasana hati ini haruskah ku beri hati yang palsu. Hatiku tinggal separuh, jika harus ku palsukan separuh hati yang lain agar menjadi utuh, lalu aku berikan dari dalam rasa yang semu bukankah akan ada sakit yang terulang kembali.

“ Yang mana?” ucapku pura-pura lupa. Tapi aku juga berharap andai aku benar-benar lupa atau lebih baik dia yang lupa.

“ Sampai kapan aku abadikan rasaku ini untukmu dalam hati yang mulai kehilangan harapan. Kau titihkan langkahku, kau pelitakan penglihatanku dalam dunia berkabutkan harapan semu. Kau tau? Bagaimana aku impikan tiap-tiap katamu dalam tidurku di malam-malam bersama mimpi-mimpiku. Aku rasakan bahagia yang tak berujung, Rhino. Bodohnya aku, aku bukakan peluk untukmu. Tololnya aku, membiarkan diriku jatuh pada rayumu. Aku… Sakit, Rhino. Tiap teringat katamu, remuk hatiku” ucapnya.

Tangisnya melebur. Tatapannya memudar. Ibaku mulai menggenanggi hati. Sesalku mulai menduri dalam hati.

“ Aku bukan Rhino, bukan siapapun” tegasku.

“ Lalu. Kau… siapa?” ucapnya terbata-bata.

“ Aku menemuimu malam ini untuk menjelaskan. Aku bukan Rhino. Aku tau kau dari Rhino” tuturku.

“ Kau lakukan sejauh ini hanya tuk menyakitiku. Aku tak tahu siapa kamu. Mengapa kau sakitkan hatiku. Siapa?”

“ Tapi, Div.. Bukan itu Maksudku. Maaf…” ucapku.

“ Jangan kau katakan namaku seolah-olah kau tahu aku. Jangan kau katakan maaf seolah-olah salahmu dapat termaafkan” ucapnya dalam tangis yang telah meleleh di pipinya. Bibirnya memerah, tertutup rapat, mencoba menahan sakitnya.

“ Kau terus saja hadir dalam hari-hari di masaku yang kelam. Mewarnai semua langkahku yang buram. Namun, ku tak duga kau adalah pembohong” ucapnya terus.

“ Maafkan aku, lupakan sakitmu, lupakan..”

“ Mudah kau katakan itu tapi sulit ku lakukan itu” sahutnya menggebu-gebu. Memotong ucapku.

“ Lalu, apa yang harus ku perbuat? Sesulit itukah maafmu untukku” ucapku yang mulai tersangkut-sangkut bersama sesak nafasku. Tangisku hampir tersisip dalam tiap kataku. Tapi, ku mencoba menyembunyikan lemahku. Walau melihatnya seperti ini, membuat hatiku hancur, membuat jiwaku pudar.

“Tak ada, tak perlu. Aku ingin sudahi ini semua” ucapnya sambil mengusap-usap mata yang memulai mengalirkan air mata.

Diva beranjak, ia pergi dengan membawa sejuta luka yang mungkin takkan pernah sembuh. Aku pernah merasakan rasa yang hampir sama. Aku paham sakitnya dalam arti yang sedalam-dalamnya. Namun, tubuhku kaku dalam beku. Bibirku rancu dalam deru. Aku tak dapat menghalau sedihnya atau bahkan menahan perginya. Ku biarkan ia berlalu. Maafkan… hatiku sudah tak tahan.

Hingga sampai saat ini. Dalam waktu-waktu yang telah berlalu. Terkadang seolah Aku masih terbayang manis senyumnya yang menjadi embun dalam bara hati. Ada pula pahit tangisnya yang terperangkap dalam hati yang menimbulkan sesal yang tak pernah pergi. Jejak langkahmu yang takkan pernah pudar dari hidupku. Aku tahu aku salah, tapi semoga aku tak pernah salah, bahwa ada cinta untukmu di hati. Semoga masih bisa hatiku berharap akan ada rasa yang bukan untukmu yang dapat aku terapkan dalam hati. Karena aku benci jika hatiku merindumu lalu mengangankan masa-masa yang memalsukan diriku. Kemudian ada seutas cinta yang mengikat hatiku, membuatku tak mampu melupakanmu. Bukankah itu hanya akan menambah rasa sakitku. Karena aku pun tahu. Dulu, aku tak cinta kamu. Kini biarkan aku terlelap dalam penyesalan ini lalu berakhir dalam kesakitan ini. Pesan dari hati ini,

Semoga tersampaikan lewat mimpi. Semoga sakitmu segera sembuh, Diva. Maafkan aku.

The End…

Azzca Romance Creation

-We never creating the ending for love but love will do it self-

Iklan

From → Galau Room

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: