Skip to content

Dimensi Pertemuan part 2

September 28, 2012

Created By : Dante Azzca

Ku jawab saja sembarang kata “Teman Fb”

“Siapa?” tanyanya.

“Teman FB” jawabku kembali

“Iya tau, maksudnya nama kamu” balasnya kesal

Kali ini butuh beberapa menit untuk menjawabnya. Dengan ragu ku ketik.

”Rhino” jawabku.

Twiez… Twiez… (Nada pesan masuk di ponselku)

”Ohh, Rhino”

Jawab acuh, yang membahayakan obrolan ini. Aku merasa bahwa dia tak tertarik dengan obrolan ini.

Aku memutuskan untuk menyudahi obrolan ini. Dan tak membalasnya lagi.
Karena ku pikir, jika diteruskan pun percuma. Diperlukan trik jitu untuk membuatnya tertarik.

Waktu demi waktu terus bergulir, tapi semangatku tak pernah berakhir.
Aku ingin membuatnya ada dalam pelukku. Rasa itu makin membara. Tanpa disadari atau tidak, kini aku sering sekali menobrol dengannya walau sekedar via SMS. Aku terus berusaha mendapatkan cintanya hanya untuk ditukarkan dengan cinta yang lain, cinta yang diam-diam aku damba dalam hati, dalam tiap aliran darah tubuhku. Ingin sekali rasanya mencicipi manis cinta itu. Ku ingin dekat denganmu, Putri. Ingin saat-saat itu selalu ada dalam tiap hariku.

Ku paksakan diri hanya untuk sekedar mengiriminya SMS berisi puisi-puisi cinta di tiap pagi dan malam. Terkadang aku berpikir ini seperti Vitamin C yang harus ku minum di tiap pagi dan malam.

“Lama terasa beku dalam sepi,

Termenung dalam lamunan mimpi,

Terperangkap dalam rapuh diri,

Ku coba mengganti kekosongan hati,

Dengan mengundang sang bidadari,

Tak terasa ku terjatuh hati,

Sejak senyummu pertama ini,

Kini hidup mulai berarti,

Walau telah tertusuk jutaan duri,

Kini dan nanti-nanti,

Kau ku kan cinta-cintai,

Juga ku kan rindu-rindui,

Ku gapaikan apapun yang kau cari,

Bahkan nyawaku tak ku peduli,

Agar senyummu bisa ku dapati,

Ku rela bertukar dengan mati”

“Woww.. Keren! Lagu ya”. Balasnya

“Bukan, hanya rangkaian kata spesial untukmu”. Tulisku.

Entah bagaimana aku bisa tiba-tiba menjadi Sastrawan yang berpujangga pada cinta. Puluhan kata, puluhan sajak, aku utarakan, aku hadirkan. Tapi tak ada arti yang ku tau sama sekali. Ku hanya mencoba menyesuaikan suasana hatiku, menyesuaikan bahwa Diva adalah Putri, walau aku tau itu tak berati.

Hingga akhirnya, sedikit demi sedikit Diva mulai luluh. Rayuanku mungkin terlalu manis, Apakah semua gadis akan menelan mentah-mentah tiap rayu cowok. Atau karena memang hati semua gadis selalu rentah dan rapuh. Mereka mudah menerima cinta tanpa curiga, tapi ketika mulai membenci, tak ada obat hendak dicari. Kini, ku seakan dapat merasakan bahwa ia perlahan jatuh dalam pelukku. Tapi juga ada hati yang meminta maaf, maaf aku sudah membohongimu. Maaf, Ku palsukan hidupku untuk masuk dalam hidupmu. Maaf Diva, maaf. Maafkan aku. Sejuta maaf mungkin tak akan cukup. Seabad tangis mungkin takkan impas.

Ada alur cerita yang tak ku pahami disini. Rumit tapi mudah untuk dijelaskan. Lama-lama ia mulai mau terbuka. Ia menceritakan semua tentangnya. Banyak hal yang ia utarakan, hingga kadang-kadang, aku dapat bertindak bagai kakaknya yang memberikan pemecahan masalahnya. Terkadang juga dapat bertindak bagai kekasih yang dapat menenangkan gejolak batinnya. Dan terkadang pula, kami membahas tentang cinta juga. Seakan telah ada cinta di antara kita. Tapi itu mungkin benar. Karena memang ada cintanya yang ia perlihatkan padaku. Rindunya yang membuktikan cintanya, sapanya yang menyuarakan cintanya, perhatiannya yang menggambarkan cintanya. Tapi ia tak pernah tau. Ini semua rekayasa kepalsuan cintaku. Ku bermain-main dengan cinta yang jernih, akankah nanti aku meneguk keruhnya, sebagai balasan karena tak ada lagi cinta jernih yang dapat melepas dahagaku.

“Aku suka kamu, kamu suka aku nggak?” tulis pesannya.

Aku bigung, panik. Tak tau harus menjawab apa.

“Sukalah, kan kamu temanku” jawabku dalam pesan.

“Bukan itu, ku suka kamu lebih dari teman” balasnya.

Aku tak ingin menyakitimu, Diva. Tapi ini bukan rasa untukmu. Maaf, aku mendustai dirimu.
“Mmm, aku masih kurang paham” balasku.

Tapi, ada beberapa hal yang tak ku mengerti. Mengapa ini terlalu cepat. Kita hanya banyak menyapa di dunia maya. Apa yang kau lihat dariku. Mengapa kau tak menyerah saja. Ku hanya memberi harapan yang tak aku harapkan. Aku semu, cintaku palsu. Mengapa kau tak menyerah saja. Diva!.

Ia terus mengatakan bahwa ia cinta aku. Tapi, aku selalu mengalihkan topik pembicaraannya. Mengalihkan fokusnya. Hal yang paling terasa sampai saat ini di hati. Adalah kata-katanya “Sudah ku katakan cinta, sudah ku ucapkan sayangku. Namun kau hanya diam dalam senyummu”. Tapi, menyerah bukan jalannya, ia terus berusaha, berupaya, dan berkata-kata.

Disisi lain, Ku terus didekatkan dengan Putri oleh Rhino. Ada saja cara yang dia lakukan, mulai menukarkan pulpenku dengan pulpen yang dia pinjam dari Putri. Dengan begitu Putri yang akan datang memintanya padaku, dan pernah menjadikanku satu kelompok belajar bersama Putri. Telah banyak cara yang Rhino lakukan. Rhino telah merencanakan semuanya. Sedikit-sedikit ku mulai dekat dengan Putri. Sedikit rasa itu mulai menumpuk di hati. Terkadang ada sepintas rindu padanya yang mewabahkan cinta di hati.

19:11 WIB

Akhirnya saat-saat yang ku nanti. Ku impikan dalam mimpi. Ku do’akan dalam hati. Tak aku duga, aku ada janji dengan Putri malam ini. Tak tau karena curhatnya padaku bahwa ia ingin menonton film di bioskop. Aku senang, semua rasa seakan meluap-luap, membanjiri hati, dalam pikiran terbesit (Ku harap tak turun hujan, karena jika itu terjadi hancur semua kebahagian itu yang ku angan-agankan selama 24 jam).

Sesampainya di bioskop…

Seakan tak ada suara, aku hanya memandangi layar bioskop, dengan sesekalinya, sesedikitnya, sesaat-saatnya, ku menengoknya. Sudah berulang kali. Tapi, ku tak ingin ia menyadari. Sambil mengusap mata, tak aku percaya, dia berada di sampingku saat ini.

Aku tak tau film ini bercerita apa. Yang aku tau satu hal, dunia akan bercerita sesuai dramaku, berputar sesuai alurku. Sekali ini, aku temukan ia menyisihkan pandangannya untuk memandangku. Adakah cintamu untukku di hatimu. Walau harus aku tukarkan dengan separuh hatiku.

Diva dan Putri, mewarnai duniaku dengan warna yang sama. Tapi hanya Putri yang membakar hati dalam irama yang berbeda. Hanya Putri yang bersuara pada hati dengan nada yang berbeda. Warna, irama, dan nada yang memukau mata dalam pesona yang melemahkan hati. Aku hanya menginginkan dia.

Dua jam hampir berlalu. Film usai. Semoga manis ini terus berlanjut. Tapi, aku sempatkan mengajaknya makan malam. Ia hanya berkata “Terserah saja!”.

Aku tepikan dia pada suatu food court. Aku lihat di pojok ruangan ada meja dan kursi yang masih kosong. Aku mempersilahkan ia untuk duduk, sedangkan aku harus memesan beberapa makanan dan minuman.
Tak beberapa setelah aku duduk, makanan dan minuman diantarkan. Dalam makan malam ini. Ia menyinggung tentang film yang kami tonton. Ada beberapa hal yang tak aku pahami, mungkinkah ini karena rasa yang bergejolak di hati? Aku hanya sesekali mengangguk, berkata ya dan tidak, dan tersenyum.

Tak ingin membuang waktu. Setelah makan malam pertama dengannya ini, Aku segera mengantarkannya pulang ke rumah, karena besok sekolah. Lagipula kami menonton film dengan mengubah alasan bahwa ada tugas kelompok malam ini. Terkadang cinta itu beralaskan dosa. Tak peduli akhirnya, yang terpenting awalnya.
Setelah tiba ruamahnya. Sebenarnya tak tepat dirumahnya, kami berada tepat yang berjarak empat rumah dari rumahnya. Karena aku berusaha menghindari orang tuanya yang nanti bertanya macam-macam. Lagipula, ada alasan lain juga yang mengerumuni pikiranku.

Rabu, 11 juni. Sepenuh bulan telah ku hitung dalam waktu yang berlalu. Sudah dari awal kedekatanku dengan putri. Tapi ada hal yang tak terduga yang ku temukan di hari ini.

Di waktu yang sama pula seperti masa-masa yang lalu, ku pergi menuju sekolah. Awalnya, duniaku tak ingin ku bagi. Awalnya, ku ingin terus hidup. Tapi kali ini. Dunia mengiramakan nada yang tak ingin ku dengar. Masa membuat alur yang tak ingin ku lalui.

Begitu tersentak ku dengarkan celotehan teman-teman bahwa ia telah menjalin cinta dengan kakak kelas yang sepintas pernah ku tau siapa dia. Aku serasa kehilangan semuanya. Saat itu, pikiranku kelam dalam tangisan hati. Jiwaku tenggelam dalam kesepian sunyi.

“Serius? Beneran?” ucapku

“Iya, bener!” ucap Ulfi, temanku.

Mataku penuh air mata namun tak dapat terjatuh, seolah kenyataan ini menusuk mataku, seolah kenyataan ini menyesak hatiku. Kenyataan ini begitu menyebalkan, aku sangat membencinya. Mataku perih, tapi hatiku lebih perih, tubuhku lumpuh, tapi nafas lebih lumpuh. Ingin ku teriakkan sejuta luka, agar kau pahami rasaku. Sungguh aku sakit karena cintamu.

Putri, Putri, Putri. Aku sudah hampir mati.

to be Continued…

Azzca Romance Creation.
(Make a Romantic Romance More)

Iklan

From → Galau Room

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: