Skip to content

Dimensi Pertemuan part 1

September 14, 2012

Created By : Dante Azzca

Selain di dunia nyata, aku juga hidup di dunia dimana dimensinya serasa hampa, tak ada apapun. Yang ada hanya jalanan tak berlampu, sepi, senyap.
Dunia yang tak ku inginkan, tapi ku juga tak mau beranjak pergi. Di sana ku menyendiri, tak ada berbeda di tiap harinya. Semua berubah, duniaku mulai berwarna. Semenjak dia menyalakan rindu di persimpangan kesepian.

Ku mulai mencoba membuka hati. Ku kan berusaha menerima dia dalam duniaku. Merubah semua pandangan mataku tentang duniaku. Rasa yang sama kembali muncul, tapi tak seperti rasa yang dulu. Ini berbeda. Ini lebih menjajah duniaku, seolah dia berkata “Keluarlah, ini aku, Divamu”.

Diva. Ku mulai menulis namanya dalam lembaran cerita hidup yang dulu telah dicoret diva-diva yang lain. Akankah lembaran cerita tentang diva ini hanya akan seperti yang lain dulu. Menjadi masa lalu yang usang. Ku menghindar dari banyak cinta yang telah beberapa gadis ingin berikan padaku. Bukan tak berhasrat tuk memilikinya, tapi ku takut satu hal. Hal yang paling aku takutkan dari apapun yang menikam dalam kegelapan dan Kehilangan. Ku tak pernah tau sisi lain dari cinta, akankah terus ada kehilangan selama nafas masih terhembus. Akankah terus ada kehilangan selama masaku belum berlalu. Tapi, akankah aku mampu melawan sakit kehilangan seperti dulu. Sakit yang membuat seluruh tubuh lumpuh, menggigil dalam rasa cemas, terbakar dalam rasa takut. Sakit yang takkan terhapus, hanya akan menjadi-jadi, ketika rindu mulai menyentuh hati yang terluka. Tak pernah ku duga akan sesakit itu. Membuat gila logikaku. Membuat ku

Tertawa tanpa merasakan kebahagian, membuatku menangis tanpa terkena percikan luka.
Bermula dari kelas 3 Sma. Hanya karena takdir yang ikut menuntun atau kebetulan yang direncanakan. Rhino, memberikanku nomor seorang gadis yang dia kenal melalui jejaring sosial facebook. Ku sempatkan berfikir, dia tak akan memberikan sesuatu tanpa ada tujuan dibaliknya, itulah sedikit sifat yang ku tau darinya. Dan lagi pula ku tak tertarik, karena ku anggap semua hal tak menarik kecuali hal yang ku nantikan. Ku bahkan tak terlalu banyak bicara.

Dengan teman-teman cewek sekelas, ku jarang bergaul atau hanya sekedar membicarakan sebuah lelucon sesekali. Semua teman-teman cewek sekelas menganggap ku sebagai seorang yang pendiam, pemurung atau bahkan pemalas. Yang membuatku sedikit bersemangat di kelas itu, hanya ketika melihat senyum seorang teman cewek sekelas. Putri namanya. Yang terkadang tak sengaja terpantau oleh mata.

Ku tak berharap dapat dengannya atau dapat menjadikannya kekasih. Sakit kehilangan dulu, masih terasa sampai saat ini. Ku tak mungkin bermain dengan cinta lagi karena ku takut sakitnya, ditambah sedikit rasa, ku tak mungkin dengannya, ku bukan siapa-siapa.
Dengan suara lirih Rhino berkata,

”Cewek ini cantik loh”, masih SMA kelas dua. Terus dia adalah cewek yang sulit. Ku acuhkan saja bicaranya, karena ku tak tertarik dan waktu itu masih berlangsung pelajaran Kimia, pelajaran yang rumit tapi unik. Rhino berkata lagi, mencoba menarik-narik minatku.

”Begini saja, kita barter. Ku kan mendekatkanmu dengan Putri—teman akrabnya”, yang terkadang menimbulkan sedikit rasa cemburu saat dia selalu dekat dengannya, tapi rasa itu berhasil ku lawan dengan rasa sakit kehilangan dulu, sehingga rasa cemburu yang sedikit itu tak pernah sedikitpun meninggalkan jejak di hati. Ku tau, Rhino mengetahui bahwa ku mempunyai sedikit rasa untuk Putri─ seperti yang kuceritakan padanya, dulu.

”Tapi, dengan syarat, kau dekati Diva untuk ku ” sambung Rhino.
Sudah ku duga, Rhino, orang yang hanya memberi jika dia menerima.

”Namun, jika kau gagal, itu tak heran. Karena Diva emang cewek cantik yang sulit”.
”Hahaha”, tawa Rhino.

”oke, kamu menantangku, Dante pantang digertak”. Kata ku.

Dengan sedikit guncangan, duniaku mulai tercemar. Tak tau mengapa ku menerima tawarannya. Apa karena aku merasa tertantang atau ada alasan lain, ku bingung. Padahal tak ada niat, aku dapat dekat dengan Putri atau bahkan inginkan lebih. Lagi-lagi, ku rasakan takdir turut menuntun langkahku.
Malam yang dingin dan hening. Setelah lelah dan jenuh, belajar di kamar. Sepintas, Ku teringat nomer Diva yang diberikan Rhino. Ku sempatkan meraih ponselku dengan tangan kiri, sementara tangan kanan masih memegang pulpen. Cahaya terguncang, tak sengaja standing lamp tersengol. Ku buka buku telepon, dengan cepat ku temukan kontaknya. Karena memang tak ada lagi nomer hp cewek di buku teleponku. Ku takkan meminta kecuali diberi dan takkan memberi kecuali diminta. Ku takut dan malu jika harus meminta nomor hp cewek, sifat yang dari dulu tak pernah berubah.
Rasa takut mulai memburu jantung, takut dia mengacuhkan ku. Rasa bingung mulai menikam pikiran, bingung ku kan memulai dengan kata apa. Keraguan mulai singgah dihati, menepi di jantung. Ingin ku urungkan niatku. Tapi, ku ingin tau sesulit apa cewek ini ditakhlukkan. Rhino yang tampan pun menyerah.

Ku kumpulkan sejuta perisai keberanian.
Tuk-tuk-tuk. (ku mulai mengetik).

”Hai, Diva”. Kata pertama yang ku ketikkan untuk cewek selama dua tahun terakhir tak pernah menyapa cewek melalui sms.

Ku tunggu-tunggu tak ada jawaban. Ku nanti-nanti tak ada balasan. Satu menit, tiga menit, sembilan menit, sampai bermenit-menit. Masih bungkam ponselku. Aku pun langsung menyerah, ku pikir cewek cantik pastilah sudah disibukkan dengan membalas sms-sms dari nomer tak dikenal seperti aku ini. Atau mengacuhkan smsku karena sudah tau akhirnya cowok yang minta kenalan.

Hari kedua, masih sama. Menunggu menjadi agenda palsu yang ku sisihkan dalam waktu-waktuku. Telah ku putuskan ingin menyerah. Besok, ku kan mengakui kekalahanku pada Rhino. Mengakhiri kebodohan ini agar semakin tak terlihat tolol.

19:17, Cahaya tertuang di sebuah ruangan. Terbaringku di atas seprei bermotif lingkaran. Tiba-tiba, suara tetesan air terdengar. Suara yang nantinya membuat ku gila. Dan juga suara yang nantinya akan mengangankan kerinduanku. Ku abaikan suara itu, nada sms hpku. Mungkin promosi operator seluler. Sebab takkan ada teman cewek yang mengirim sms ku.

Kembali suara tetesan air terdengar. Ku teringat, mungkin dia yang membalas sapaku waktu itu. Ku segerakan beranjak dari rasa malasku. Ku raih ponselku. Akhirnya penantianku telah terbayar. Jiwa ku terselimuti kegembiraan

”cpa yah?”. Jawabnya.

To be Continued….

Iklan

From → Galau Room

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: